Header Ads

Potret Pendidikan di Desa Legokulon

“Namaku Rio, umurku 3 tahun dan yang aku pegang ini adalah layang – layangku sayangnya, aku harus berlari terus agar layanganku bisa sedikit terbang. Aku tinggal bersama dengan keluargaku, kakakku berumur 5 tahun, kakakku sudah bisa berhitung hingga angka 2. Aku memiliki sebuah sepeda yang hanya bisa kutuntun karena aku takut ketika dinaiki aku tidak bisa berhenti karena remnya sudah rusak. Aku tidak suka menggunakan alas kaki, tidak hanya aku tetapi teman – teman bermainku tidak menggunakan alas kaki, karena ketika berjalan dengan menimbulkan bledug(*) adalah kesukaan kami. Teman – temanku sudah banyak yang bersekolah di sebuah SD yang hanya memiliki 4 ruang kelas, dengan baju seragam merah putih yang kumal dan sandal tanpa sepatu. Tidak ada TK disini, jadi kakakku belajar berhitung sendiri.”

Paparan diatas adalah sebuah potret keadaan yang masih terletak di pulau jawa yang notabenenya masih dekat dengan pusat pemerintahan. Pemandangan seperti ini ditemukan saat Forum Silahturahmi Mahasiswa Ngawi (FORSMAWI) yang di koordinir oleh Forsmawi Malang mengadakan Bakti Sosial (Baksos) di Dusun Mendut, Desa Lego Kulon, Kecamatan Kasreman pada tanggal 6 – 9 Juli 2015 . Tidak hanya Rio, sebagian besar anak disana memiliki keadaan yang hampir sama, dengan mata pecaharian orang tua mereka adalah buruh tani. Bukan hanya soal pendidikan yang kurang, untuk kebutuhan air sehari – hari sangatlah susah.

Tentu sudah banyak dipublish di berbagai media tentang tidak meratanya pembangunan Indonesia tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Sedangkan hak untuk memperoleh pendidikan telah jelas di atur dalam UUD pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan”. Terlalu menggebu – gebu mencapai Indonesia bebas buta huruf tahun 2020, sedangkan untuk biaya pendidikan anak usia dini sederajat (Pendidikan Anak Usia Dini) PAUD dan (Taman Kanak- kanak) TK kebanyakan biayanya lebih mahal dibanding dengan Sekolah Dasar. Menurut Piaget, salah satu tokoh psikologi menyatakan bahwa usia dini (0-6 tahun) merupakan tahap perkembangan anak yang paling penting. Hal ini dikarenakan usia dini adalah masa keemasan (golden age) bagi perkembangan otak anak.

Tentunya sebuah pendidikan sangat perlu bagi tumbuh kembang anak, dimana terdapat pemahaman mengenai karakteristik anak tersebut yang akan membantu dalam penyesuaian lingkungan, kebutuhan dan kondisi fisikal, emosional maupun sosial. Meskipun belum termasuk pendidikan wajib, dilihat dari tingkat perkembangan kecerdasan anak TK sangatlah penting. Pada saat bayi dilahirkan ia sudah dibekali Tuhan dengan struktur otak yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya setelah di luar kandungan. Bayi yang baru lahir memiliki lebih dari 100 milyar neuron dan sekitar satu trilyun sel glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan membentuk bertrilyun-trilyun sambungan antar neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan. Synap ini akan bekerja sampai usia 5-6 tahun. Banyaknya jumlah sambungan tersebut mempengaruhi pembentukan kemampuan otak sepanjang hidupnya.

Dengan begitu untuk melahirkan generasi bangsa yang cemerlang kita tidak bisa mengesampingkan pendidikan anak usia dini.

(*) Bledug : Bahasa Jawa dari Debu Sumber : Forsmawi.org

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.